Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts
Showing posts with label Jalan-jalan. Show all posts

11/12/2006

Jatiluwih Cycling Tour

Sebetulnya kita sekeluarga lebaran ini akan ngerasain yang namanya ritual mudik lebaran, dan tujuannya adalah kediaman almarhum embahnya anak2 dari maknyak di desa Bulumanis, Pati, Jawa Tengah.

Ritual mudik ini belum pernah sama sekali kita lakukan selama saya menikah dg maknyak, malah kita berdua suka merasa aneh dg bebrapa saudara, teman yang rela bersusah payah bermacet-macetan ria dijalan untuk melakukan ritual mudik setiap lebaran berangkat/pulang, maka dari itu kita se keluarga sangat penasaran dan antusias sekali ingin merasakan ambiance mudik ini, dan bagi anak2 mungkin akan menjadi pengalamannya yang menarik.
Tetapi 2 minggu menjelang lebaran ternyata dengan berat hati dibatalkan, kita yang tadinya sudah semangat dan sempet gembar-gembor kesana kemari kalo tahun ini akan ikut dalam hiruk pikuk ritual mudik cukup kecewa, begitu pula anak2, maka untuk mengobati rasa kecewa itu, saya ber inisiatif untuk mengajak keluarga berlibur ke Bali sebagai gantinya

Singkat cerita akhirnya hari pertama kita sekeluarga berlebaran di Bali, dan disana selama 1 minggu. nah salah satu kegiatan yang saya ingin lakukan dg hobby saya adalah bersepeda gunung dikawasan pegunungan menikmati asrinya pedesaan dan hamparan teras sawah dg sistim subaknya di Bali.

Setelah mencari tau mengenai penyelenggara wisata bersepeda, saya memilih touring di desa yang terkenal sebagai lumbung beras merah, berada di kaki gunung Batukaru/Watukaru yaitu di desa Jatiluwih di kabupaten Tabanan yang menurut informasi medannya relatif datar dan rutenya 80% disekitar persawahan dan melalui jalan2 desa, karena kawatir anak2 dan tukang masak aka maknyak tidak kuat bila medannya banyak tanjakan.
foto teken from http://www.bali.cside.com/kankou/onsen.htm

Dalam paket wisata bersepeda ini, sudah termasuk sepeda jenis MTB, dijemput/diantar dari penginapan, sarapan untuk mengisi energi sebelum start, 1 botol bekal minuman untuk di perjalanan. dan terakhir makan siang prasmanan kumplit. Ternyata perjalanan wisata dg bersepeda yang diselenggarakan oleh mereka ini cukup santai, karena kita banyak berhenti di obyek2 wisata yang menarik sepanjang perjalanan , (hamparan sawah berteras desa para petani yang damai, dan lokasi sumber air panas) walaupun menurut saya cukup santai, tetapi untuk tukang masak wisata ini cukup menyiksa karena jalanan desanya lebih banyak batuan2 lepasnya dari pada jalan mulus maknyak lebih suka explore rahasia masakan bali dari pada ber eco wisata berpanas2 dan musti genjot, kebetulan lagi sepeda yang disediakan kurang memadai sekali, bebrapa komponennya tidak bekerja dg baik.

7/10/2006

Gedung Tua Museum Fatahilah

Sudah lama tidak sepedahan ke daerah kota, karena selain jauh dari tempat tinggal saya, saya lebih memilih untuk ber olah raga lintas alam dengan sepeda MTB saya kedaerah pedesan Serpong, Tanggerang secara rutin yang berjarak kira-kira 20 km dari rumah. di daerah ini saya bisa menikmati udaranya yang jauh lebih bersih tidak berpolusi, kita bisa menikmati suasana persawahan, hutan bambu, dan desa2 yan masih asri, sekaligus rekreasi untuk menghilangkan kejenuhan berkerja sehari-hari.

Tetapi minggu yang lalu sempat kangen juga jalan2 kekota, jadi pagi2 sekali sekitar pukul 6.30 saya start dari rumah di daerah Rempoa, Ciputat genjot kedaerah kota, karena biasanya pada hari minggu jalan2 protokol ditutup untuk kendaraan bermotor jadi saya bisa santai dengan menikmati udara yg cukup nyaman, memang setiap hari minggu banyak pengemar olah raga bersepeda mengunakan kesempatan ini dan biasanya mereka berkumpul di daerah Silang Monas.

Setelah sampai didaerah kota saya sempatkan berkeliling melihat-lihat bangunan tua peninggalan pemerintah Kolonial Belanda, yang sayang sekali beberapa gedung sangat kurang sekali perawatanya dan telah berubah fungsi menjadi gudang2, singkat cerita sebelum kembali ke rumah saya istirahat sejenak di pelataran gedung Fatahilah yang terletak di Jalan Taman Fatahillah # 1, dibangun awal abad ke-16, tepatnya tahun 1707 yang dahulunya gedung ini merupakan Stadhuis (Balaikota) kota jakarta era pemerintahan kolonial Belanda.

Pagi ini bangunan ini terlihat sangat anggun dan damai sehingga tergelitik saya untuk mengabadikan jejeran jendela2 yang berbaris rapi seperti prajurit kompeni pada zaman nya, padahal di hari biasa suasana disekitar gedung sangat semerawut, jalan2 macet, bising, banyak tukang2 dagang mangkal, sehingga keanggunan gedung ini tenggelam dengan kesemerawutan aktifitas perdagangan yang memang sebagian besar berpusta disekirtar kota ini.