Showing posts with label Hobby. Show all posts
Showing posts with label Hobby. Show all posts

7/02/2008

Rebuilding My Old Shock

Sudah sejak tahun 2004 RockShox SID terpasang di MTB saya, sebetulnya banyak brand shock yang canggih2 tapi untuk saya RockShox SID, shock XC dengan travel 80mm ini udah ga ada matinya, dan sudah dipake ber off road ria kemana saja.

Saya kenal mahluk ini sudah sejak dari tahun 1998, tetapi baru kesampaian belinya di tahun 2004 itu pun yang "SID Race 2003" dan bekas pula, saya memutuskan memakai shock ini karena reputasinya cukup bagus dan dari semua yang pernah memakai atau masih memakainya sampai sekarang saya belum pernah mendengar ada keluhan dari kinerjanya, atau kerusakan2 sampai harus bener2 dipensiun, yang ada cuma dipensiun karena ada keluaran seri terbarunya.

Karena belinya bekas maka mau tidak mau harus service ringan
terlebih dulu, paling tidak cek oli dan o-ring sealnya (pure delite rebound demper dan dual air shaft) setelah saya pelajari buku petunjuk service manualnya ternyata walaupun sitim "Dual Air Spring" (fungsi pegas dengan 2 ruang angin positiv/negativ) nya cukup canggih tapi konstruksi mekaniknya sangat sederhana sekali, jadi saya putuskan untuk dikerjakan sendiri saja saat itu, dan setelah di bongkar ternyata semua masih dalam keadaan bagus (o ring, bushing, valve, dan lain2nya) cukup hanya dibersihkan saja dan olinya diganti dengan yang baru, kebetulan oli shock dengan kepekatan 15wt bisa didapat di sini kecuali yang 5wt terpaksa harus pesen dari sebrang.
Cat, sticker sudah mengelupas dan dust whiper sealnya sudah pecah2

Sekarang 2008 sudah 4 thn shock ini di geber ke mana2, shock mulai punya kelakuan aneh, (bunyi2 kalau valve rebound ditutup separuh, karet dust whipernya sudah kering dan pecah2 sedikit, cat dan stickernya sudah pada mengelupas disana sini, untuk dipensiun atawa dibuang begitu saja kok sayang mengingat sekarang barunya saja bisa sampai 6 jt idr, jadi kenapa tidak di rebuild saja dan di cat ulang kalau memang masih bisa.
Pasien sedang di bedah diatas meja oprasi

Untuk me rebuildnya tentu butuh spare part yang lengkap, karena spare
part tidak ada di sini terpaksa harus pesan dulu ke daerah asal pembuatnya, ternyata hanya satu mingu pesanan sudah tiba, tapi sayang untul sticker/decal logo yang autentiknya belum dapat, karena penjualnya tidak melayani pengiriman langsung ke indonesia.

Setelah saya cat ulang lower legnnya dan semua dirakit kembali maka RockShox SID Race saya kembali seperti baru, sayang sebagian sticker lama yang saya lepas tidak bisa ditempel lagi dan belum dapat sticker baru yang aslinya.
Kembali sehat, mulus, tapi belum ber Tato

Sebetulnya SID keluaran 2008
ini kinerja dempernya telah dibuat lebih canggih lagi dengan teknologi Blackbox Motion Control nya dan tetap menggunakan teknologi dual air spring lamanya yang sudah terbukti mumpuni untuk di set dengan sepsifikasi medan maupun si pengendaranya, untuk saya yang hanya penyepeda hobby dan kantong yang pas2 an rasanya pakai yang seri lama pun sudah lebih dari cukup.

12/22/2007

Analog vs Digital

Setelah era Digital mulai merasuki keseluruh prabotan2 yang kita pakai baik prabotan untuk kegiatan hari2 maupun kegiatan hobby, saya mulai bingung dengan prabotan2 Analog saya yang sepertinya kok udah jadi kuno sekali, rasanya mau dipensiun masuk gudang tidak tega juga.

Mau dipakai terus kok nyusahin diri AKA kurang praktis, "Hari gini masih demen ngulik ke laut aje" kata orang .... kekekek. Tetapi kalau tidak dipakai kok sayang, sayang karena ingat dulu belinya pake nabung2 dulu dan pada eranya prabotan itu sudah termasuk yang terbagus.

Kalau soal piringan hitam dan alat putarnya tidak terlalu masalah tau kemana sekarang rimbanya mungkin sudah berdebu digudang karena sudah lama tidak disentuh begitu era CD meraja lela, kalau soal mesin gambar (gambar2 teknik arsitektur) juga tidak masalah setelah dengan program autocad dan 3d semuanya jadi lebih praktis dan mudah, tapi kalo soal camera analog ini lain ceritanya.

Kegiatan jeprat-jepret ini pertama saya kenal ketika saya masih kelas 2 SD kira2 tahun 60 an, waktu itu saya dan kakak dibelikan camera foto tipe box camera oleh alm ayah saya, entah mereknya apa terbuat dari plastik dan bentuk sisi2 cameranya mem bulat, camera mainan ini dapat berfungsi betulan.

Cameranya sangat sederhana sekali tapi hasilnya lumayan bagus, untuk motret objeknya harus berjarak kira2 tiga langkah dari pemotretnya karena focusnya sudah fix, dan saratnya si objek harus menghadap sinar langsung, waktu itu kita menggunakan 120 Film B&W isi 12 bingkai.

inilah hasil foto2 dari camera pertama saya (klik gambar untuk memperbesar)

Pada waktu itu alm ayah saya memang sudah hobby motret dan menggunakan Camera 35mm RF (Range Finder), Leica M1 atau M2 saya kurang tau pasti.

Namanya anak2 jadi Camera disamakan dengan barang mainan umumnya, pas baru2nya untuk motret saja pasti berebutan dengan kakak karena memang camera itu dibelikan untuk dipakai berdua, dan biasa setelah lama mulai bosen camera jarang dipakai malah sampai2 lupa di taruh dimana dan akhirnya hilang, singkat cerita saya mulai jeprat-jepret lagi pada saat saya sudah duduk di bangku SMP.

Lagi2 karena camera pemberian alm ayah saya dan lagi2 camera untuk dipakai berdua kakak saya, cameranya cukup canggih bentuknya compact dapat di masukan kesaku, camera 35mm jenis RF mereknya Rollei 35S. Camera ini 100% manual dan 100% mekanik, tapi sudah mempunyai built-in analog light meter sistim jarum dan batang geser yang cukup akurat dengan tenaga dari batrey kancing.

Nah pada saat ini lah saya mulai mengenal apa itu aparture, shuter speed, ASA, dll cara menggunakan camera, untuk mendapatkan foto yang gambarnya bagus selain focus yang teptat juga ke tiga kombinasi bagian2 tsb diatas harus tepat.

Tetapi untuk sistim focusnya camera ini masih menggunakan sistem kira2/skala jadi kita harus tau kira2 jarak objeknya lalu index focus pada lensa kita putar hingga sekalanya sama dengan jarak objek yang kita taksir tadi, dan karena mungkin menggunakan lensa tetap 40mm/2,8 maka umumnya gambar relatif akan tajam karena lensa 40mm mempunyai DOF (Depht of Field) relatif panjang. camera ini sekarang masih disimpan oleh kakak saya.

Benar2 mulai senang dengan fothography pada saya mulai duduk di bangku kuliah kira2 tahun 70 an, mula2nya karena pada waktu kuliah sering sekali bila ada kegiatan2 dicampus selalu diminta untuk memotret dan dsinilah saya mulai mengenal camera SLR, camera yang sering saya pakai adalah kamera pinjaman dari alm ayah saya yaitu camera Canon F-1, camera ini juga 100% manual dan 100% mekanik dan sistem pengukuran cahayanya sama dengan camera Rollei 35s (jarum dan batang geser) tetapi focusnya bisa lebih akurat karena kita melihat langsung objeknya melalui lensa dan akan focus bila gelang focus kita putar hingga object sudah benar2 jelas/tajam gambarnya.

Dengan camera jenis ini lah saya juga mengenal jenis2 lensa denga focal length yang beda2 (lensa lebar, lensa normal, dan lensa tele). cukup lama juga saya menggunakan camera SLR ini dan sempat harus menabung untuk mebeli 1 bh camera Canon New F-1 (Camera hybrid 100% mekanik + elektronik untuk shuter speed rendah dibawah 1/125, dan untuk menjalankan fasilitas Av&Tv nya) seperti gambar disebelah ini, dan bebrapa jenis lensanya, camera jenis ini memang asik untuk dipakai eksperimen, teapi relatif lebih besar dan berat dibanding camera range finder saya terdahulu, apalagi bila menggunakan lensa tele,rasanya berat dan kurang leluasa bergerak.

Suatu ketika pada saat lebaran saya sekeluarga bersilaturahmi ke rumah adik ayah, disana saya diberi tau ayah saya bahwa adiknya punya camera Leica tetapi jarang sekali dipakai dan kalau mau nyoba tanyakan apa boleh saya pinjam. Setelah saya tanyakan ternyata boleh dan akhirnya satu tas camera berisi 2 body camer Leica M4 dan beberapa lensanya saya bawa pulang untuk saya pinjam.

Pertama kali saya heran dengan jenis camera RF yang lensanya dapat di ganti2 karena dalam pikiran saya camera RF kan tidak bisa memfocus langsung melalui lensa, harus difocus melalui jendela intip yang terpisah dari lensa , bagaimana membedakan luas area bidangnya bila focal lenghtnya beda2, trnyata setelah coba dengan bebrapa lensa yang beda jendela intipnya mempunyai bingkai bayangan yang bisa berubah2 sesuai jenis lensa yang digunakan, selain itu focusnya juga bisa tepat karena dengan sistim menyatukan bayangan ganda.

Camera ini 100% manual, 100% mekanik dan tidak ada light meternya sama sekali jadi untuk mendapatkan pengukuran cahaya yang tepat harus menggunakan light meter genggam terpisah, walaupun sebenarnya saya sudah tebiasa memotret hanya dengan patokan rumus ASA (ASA rule of thumb formula), tetapi untuk hasil yang baik/maksimal maka terpaksalah bongkar tabungan beli light meter seken yang murah meriah.

Camera ini sangat ringkas dan ringan, karena ukuran lensa2nya relatif lebih kecil kira2 setengahnya dari ukuran lensa camera SLR, karena sifatnya yang ringkas ringan, lincah, dan sangat halus bunyi shuternya, hasil gambarnya juga lebih bagus lebih natural, untuk warna tidak bisa semarong (vivid) lensa jepang, tapi soal warna sebetulnya bukan masalah serius karena saya lebih suka gambar2 b&w, akhirnya camera ini lah yang jadi camera favorit saya seterusnya sampai sekarang.




Leica M4 black body

21mm/3,4 super-angulon
50mm/2,0 sumicron
90mm/2,8 elmarit 135mm/2,8 elmarit
400mm/5,0 telyt

Kembali kemasalah digital, istri saya akhirnya beli camera SLR digital Canon EOS 400D untuk motretin masakan2 nya kareana hobbynya masak dan resep2 serta foto2 masakannya akan di share untuk siapa saja melalui blog masaknya, sebelumnya dia pakai camera saku digital Canon Ixus 330 walaupun hasilnya cukup bagus tapi "DOF nya ga dapet" katanya (back grounnya ga bisa burem), EOS 400D ini bentuknya mungil dan ringan pas untuk ukuran tangan perempuan.
Akhirnya saya juga lebih sering menggunakan Camera ini untuk membuat foto2 Interior, Arsitektur yang saya butuhkan untuk meng update portfolio web profesi saya.

Memang camera sekarang sudah sangat canggih, kita tidak usah repot2 kalkulasi dan nebak2 setingan, semua sudah otomatis dikerjakan oleh prosesor di camera, bahkan focusnya juga sudah otomatis, lensanya dilengkapi mekanis anti goyangan supaya gambar tidak burem kalau motret pake speed rendah, banyak pilihan seting untuk macem2 suasana pemotretan, bahkan sambil merem motretnya pun pasti jadinya bagus, dan yang penting bisa langsung tau hasilnya sat itu dan bias langsung dicetak, pokonya tinggal kreatifitas kita aja, selain itu semua proses kamar gelap sudah dikerjakan camera itu sendiri dan sedikit bantuan computer,atau bisa di katakan fly by wire.

Jadi sekarang tinggal pilih masih mau ribet2 pake kamera analog manual, apa pake kamera digital super canggih yang sudah pasti jadinya bagus ... bingung kan ... apakah akhirnya semua Camera analog saya tinggal sejarah gitu saja ... sedih juga sih liatnya.

Kalau lensa analog SLR nya sih sudah pasti tidak bisa dipakai di camera SLR digital walaupun sama2 Canon, tetapi untuk lensa analog dari M4 kalau dipakai ke body Leica M8 masih bisa tapi harga cameranya itu yang ga tega dengernya kalo cuma dipakai buat hobby2 an saja, bisa punya Leica M4 ini saja boleh dapet dari lungsuran kok...

Untung masih ada satu prabotan hobby yang aman diera digital yaitu sepeda gunung saya, sebetulnya sudaha ada versi digitalnya tapi biasanya dipakai untuk latihan simulasi indor, untuk sepeda yang berubah dari tahun ke tahun cuma component2 nya aja yang makin canggih.

1/04/2007

Pakde Bergaya Sembalap


Tidak terasa tahun sudah berganti, selain itu lama juga tidak nulis2/update blognya sampe2 bang Jhoni bosen setiap mampir masih itu2 aja ... hehehe, tapi sebelumnya mau mengucapkan selamat tahun baru 2007, semoga ditahun ini keadan, perekonomian, keamanan, pendidikan dll, makin membaik.

Berhubung belum punya bahan untuk nulis pasang foto jadul aja dulu deh biar bang Jhoni tidak kecewa kalau mampir, foto ini adalah event PCC XC Race di Cibubru tahun 2002, dan iseng2 ikut di kelas Master B yang di gabung dengan kelas
Executive, hasilnya tidak finish, cuma menang di gaya padahal racenya cuma 3 lap .... hehehehe

Waktu latihan sih ok, tapi pas balapan beneran malah
kedodoran di tengah jalan mungkin karena emosi dan ngotot sehingga begitu start langsung tancap gas pol, dan hasilnya, ya gitu deh ....

7/12/2006

Jalur Pipa Gas AKA "JPG"

Banyak yang sudah tau atau dengar nama "JPG", tapi banyak juga yang belum tau apa dan dimana JPG itu. JPG Adalah singkatan dari "Jalur Pipa Gas", ya memang betul di area itu terpasang pipa gas bawah tanah milik negara. Diatas jalur pipa ini adalah jalur tanah yang tidak boleh ada bangunan diatsanya, atau kendaraan roda empat melintas diatasnya, jadi sepanjang jalur ini adalah jalur off road (tanah,rumput, batu2an) yang asik untuk dipakai ber MtB. Saya bersama teman JPG'er pernah menelusuri jalur ini samapi ke Depok. Kita berangkat dari warung ketan di JPG, Jombang, Tanggerang, atau lebih dikenal dengan sebutan Empok Kafe dan finishnya dihutan lindung UI, Depok.

Lokasi JPG ini terletak di desa Lengkong Gudang Timur (LEGUTI), BSD-Jombang, Tanggerang, dimana para pengemar sepeda gunung di akhir pekan atau hari2 libur baik perorangan, club atau grup biasanya datang untuk melakukan bebrbagia aktifitas dengan sepeda gunungnya masing2. Mereka yang tinggalnya tidak terlalu jauh sekitar 20 km an atau lebih sedikit biasanya datang langsung dengan mengendarai sepedanya, sedangkan yang jauh2 biasa datang dengan membawa sepedanya di mobil. Lokasi in bisa dikatakan semacam Bike Park untuk umum dan dikelola bersama2 para MtB'er yang sering bermain disini dan tidak dipungut biaya, tetapi kadang2 beberapa pengunjung secara suka rela menitipkan uang pada kotak kenclengan yang tersedia di Empok Kafe untuk biaya perbaikan sarana lintasan yang biasanya kita meminta jasa penduduk setempat untuk mengerjakan prbaikan jembatan bambu atau pembabatan2 tumbuhan2 / phon2 liarnya.

Sebetulnya lokasi JPG ini sudah ada sejak tahun 1995 dan sudah digunakan oleh beberapa club MtB untuk latihan ataupun event balapan, pada tahun 1998 lokasi ini krisis pengunjung mungkin akibat dampak dari krismon yang pernah kita alami. Di tahun 2001 dengan semangat yang besar, beberapa orang anggota club yang dulu malang melintang disini mulai bergerilya mencari MtB'er lama atau baru untuk mau main lagi disini, dan hasilnya JPG kembali ramai oleh pengemar olah raga sepeda gunung dan sampai sekarang lokasi ini tidak pernah sepi lagi, tiap tahun banyak muka2 baru yang hadir, sedangkan muka2 lama kadang muncul kadang absen tapi secara keseluruhan JPG tetap ramai kembali.

Disini para MtB'er bisa ber lintas alam sepanjang 6,5 km satu putarannya di lintasan yang sengaja dibuat ini. MtB'er diajak menyusuri beberapa desa dengan melintasi jalur2 hutan bambu, sawah2, ladang penduduk, empang yang kondisinya masih sangat asri dan sejuk, peta lintasannya seperti foto diatas. Terima kasih buat IGO yang telah mebuat peta ini dengan peralatan GPS nya. Dan untuk detail mengenai karakter dan tingkat kesulitan lintasan di JPG ini bisa baca reviewnya di Blognya IGO

Dari sini juga banyak yang melakukan aktifitas touring ke arah Bogor melalui Parung atau ke arah Karawaci Tangerang melelui desa Cihuni yang lintasannya hampir mirip2 di JPG, dan harus menyeberangi kali dahulu Cisadane yang lumayan deras arusnya dengan menggunakan rakit bambu, biasanya mereka yang melakukan touring berangkat dari "Empok Kafe" pukul 8.00 dan baru kembali lagi paling lambat sekitar pukul 15.00

Untuk beberapa atlit lintasan JPG ini dipakai juga sebagai salah satu sarana latihan rutinnya, sayangnya lintasan di JPG ini memang tidak permanen jadi sewaktu-waktu dapat berubah/bergeser kearah lain sesuai dengan kebutuhan lahan oleh penduduk setempat.

7/01/2006

ex LOKAL vs ex LUAR

Frame Optimist - Traxer, Componen Shimano - Deore LX, Rim Mavix 221, Ban Panaracer - Dart Smoke, Shock, RST - CAPA, Shifter Sram 8 Speed


gw neh gi nyepedahFenomena produksi barang ex lokal dengan barang ex luar memang tidak pernah berhenti dibicarakan, yang jelas sekarang image barang ex lokal itu payah deh pokoknya.
Padahal produsen2 luar sebetulnya banyak yang membuat pabriknya disini ... misal sepatu, baju2 sport, dll, yang jelas mutunya pun pasti di kontrol oleh pihak juragannya dari sana itu.

Sehubungan diatas saya mau cerita sedikit dengan sepeda MtB saya, sudah lama memang saya senang olah raga bersepeda tetapi setelah mulai lebih serius kira2 tahun 1998 saya berfikir untuk membeli sepeda yg lebih bagus performanya dari segi geometrinya, bahannya, bobotnya dan bisa dipake race sekali2(spek kompetisi). Karena sebelumnya pake sepeda MtB tapi jenis touring dan bukan buatan lokal.

Karena baru serius dan kondisi kantong lagi mepet maka jatuh pilihan pada frame MtB buatan lokal, menurut saya frame ini cukup bagus dari segi geometrinya, bobotnya dan kekuatanya, bahwa frame ini harusnya bisa dipakai sedikit ajrut2 an atau balapan cross country minimal.
Setelah selesai merakit (penapakannya seperti foto yang diatas) dan dites ternyata memang frame ini manouvernya luar biasa cukup agresif untuk dipakai race.

Ternyata frame ini dari segi kekuatanya kurang baik, karena setelah sekian lama dipakai ajrut2 an mulai ada retak di BB (Botom Bracket) shelnya, saya coba untuk mengelasnya dan di pakai lagi ternyata juga tidak bisa bertahan lama.
Sedangkan rekan lain yg memakai frame yg sama juga mengalami retak di daerah pertemuan Seat Tube dan Top Tubenya.

Kesimpulan saya barang2 ex lokal sebetulnya tidak jelek2 amat tapi mungkin karena sistim pengawasnnya saja yg kurang, dan dijual untuk konsumsi lokal jadi produksinya tidak memperhatikan standar mutu internationalnya, dipikir toh yg beli orang2 kita saja yang penting kan mereka bisa beli murah padahal setau saya frame ini juga dipasarkan ke luar negri, ke UK tapi pasti mutunya beda.
Tetapi belakangan ini sepeda MtB produksi lokal sudah baik, hanya untuk yang spek kompetisi memnag belum memadai.

Ada cerita lucu dari sepupu saya yang pergi berlibur ke Amrik bersama keluarganya, mereka kebetulan lupa membawa kamera padahal kalau kita berlibur keluar kota atau keluar negri pasti tidak akan pernah absen bikin foto2.
Singkat cerita akhirnya diputuskan beli camera saku merek Fujica yang murah meriah dan cukup bagus untuk dipakai foto2 liburan.
Setelah puas jepret sana jepret sini dan foto akan dicetak baru ketahuan kalau camera tersebut ternyata buatan Indonesia, dan dengan senyum kecut dan dala hati berpikir buat apa jauh2 beli kamera kalo ternyata buatan negara sendiri ....